Selamat Datang di Blog Kami. Blog ini meyediakan berbagai macam informasi seputar Madura dalam bentuk media online yang memuat: Madura Zone, Artikel, Pendidikan, Budaya, Pariwisata, Kuliner, Berita, Dan lain-lain. Selamat berkunjung di blog kami!!!

Kepemimpinan PondokPesantren Tradisional di Ponpes Darul Ulum Ambender Pegantenan Pamekasan

---
---
Kepemimpinan Pondok Darul Ulum Sumber Lompang dipegang oleh seorang kiai yang memiliki wewenang dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas kepemimpinan. Hal itu berbeda dengan dua pesantren sebelumnya yang menggunakan istilah “mudir” bagi pimpinan pondok pesantren. Hal lain yang juga sama dari pondok pesantren tradisional umumnya.
Berdasarkan struktur kepengurusan di Pondok Pesantren Nurul Iman, terlihat bahwa model kepemimpinannya adalah model kepemimpinan kolektif-pasif. Hal itu terlihat dari susunan pengurus yang berada di pesantren. Dikatakan pasif karena kolektivitas kepemimpinan di pondokpesantren tersebut lebih didominasi kiai sebagai pimpinan pesantren. Sedangkan tipe kepemimpinannya identik dengan kepemimpinan karismatik (charismatic leader), karena kiailah yang memimpin dan mengelola pesantren. Sebagai figur karismatik, kiai adalah pimpinan informal yang dipilih, diakui, dihormati, disegani, dan ditaati serta dicintai para santri dan komunitas pesantren serta masyarakat secara luas.
Kiai sebagai salah satu unsur dominan dalam kehidupan sebuah pesantren. Ia mengatur irama pekembangan dan keberlangsungan kehidupan suatu pesantren dengan keahlian, kedalaman ilmu, karisma, dan keterampilannya. Tidak jarang sebuah pesantren tidak memiliki manajemen pendidikan yang rapi, sebab segala sesuatu terletak pada kebijaksanaan dan keputusan kiai.
Seorang kiai dalam budaya pesantren memiliki berbagai macam peran, termasuk sebagai ulama, pendidik dan pengasuh, penghubung masyarakat, pemimpin, dan pengelola pesantren. Peran yang begitu kompleks tersebut menuntut kiai untuk bisa memosisikan diri dalam berbagai situasi yang dijalani. Dengan demikian, dibutuhkan sosok kiai yang mempunyai kemampuan, dedikasi, dan komitmen yang tinggi untuk bisa menjalankan peranperan tersebut.
Di pondok pesantren darul ulum dipimpin oleh Kiai H. Abd. Rosyid Hasbullah, beliau sebagai figure utama yang memimpin pesantren dari tahun 1990-sekarang, beliau ulama sekaligus tokoh masyarakat di desa Ambender yang perannya di bidang pendidikan tidak bisa dikesampingkan. Kesejahteran pendidikan dan keagamaan telah beliau ciptakan di desa ambender dan terbukti terhadap masyarakat.
Eksistensi kiai sebagai pemimpin pesantren, ditinjau dari tugas dan fungsinya, dapat dipandang sebagai sebuah fenomena yang unik. Dikatakan unik karena kiai sebagai pemimpin sebuah lembaga pendidikan Islam tidak sekadar bertugas menyusun kurikulum, membuat peraturan atau tata tertib, merancang sistem evaluasi, sekaligus melaksanakan proses belajar-mengajar yang berkaitan dengan ilmu-ilmu agama di lembaga yang diasuhnya, melainkan pula scbagai pembina dan pendidik umat serta menjadi pemimpin masyarakat.[1]
Peran yang begitu sentral yang dilaksanakan oleh kiai seorang diri menjadikan pesantren sulit berkembang. Perkembangan atau besar-tidaknya pesantren semacam ini sangat ditentukan oleh kekarismaan kiai pengasuh. Dengan kata lain, semakin karismatik kiai (pengasuh), semakin banyak masyarakat yang akan berduyunduyun untuk belajar bahkan hanya untuk mencari barakah dari kiai tersebut dan pesantren tersebut akan lebih besar dan berkembang pesat.
Kiai Abd. Rosyid dalam memimpin pesantren merupakan tokoh sentral dalam pengambilan keputusan, namun sebelum memberrikan keputusan sebagaimana yang kami dengar dari menantu beliau kiai Ach. Ruf’ie dalam menentukan keputusan terlebih dahulu melakukan rapat keluarga tanpa ada orang luar. Sehingga, keputusan tersebut hanya anggota keluarga pesantren yang ikut berperan dalam pengambilan keputusan.
Kepemimpinan individual kiai inilah yang sesungguhnya mmewarnai pola relasi di kalangan pesantren dan telah berlangsung dalam rentang waktu yang lama, sejak pesantren berdiri pertama hingga sekarang dalam kebanyakan kasus. Lantaran kepemimpinan individual kiai itu pula, kokoh kesan bahwa pesantren adalah milik pribadi kiai. Karena pesantren tersebut milik pribadi kiai, kepemimpinan yang dijalankan adalah kepemimpinan individual.[2]
Dengan kepemimpinan semacam itu, pesantren terkesan eksklusif. Tidak ada celah yang longgar bagi masuknya pemikiran atau usulan dari luar walaupun untuk kebaikan dan pengembangan pesantren karena hal itu wewenang mutlak kiai. Hal seperti inilah pola kepemimpinan pada pondok pesantren tradisional/salaf.
Model kepemimpinan tersebut memengaruhi eksistensi pesantren. Bahkan belakangan ada pesantren yang dilanda masalah kepemimpinan ketika ditinggal oleh kiai pendirinya. Hal itu disebabkan tidak adanya anak kiai yang mampu meneruskan kepemimpinan pesantren yang ditinggalkan ayahnya baik dari segi penguasaan ilmu keislaman maupun pengelolaan kelembagaan. Karena itu, kesinambungan pesantren menjadi terancam.[3] Krisis kepemimpinan juga bisa terjadi ketika kiai terjun ke dalam partai politik praktis. Kesibukannya di politik akan menurunkan perhatiannya terhadap pesantren dan tugas utamanya sebagai pembimbing santri terabaikan, sehingga kelangsungan aktivitas pesantren menjadi terbengkalai.
Adapun pergantian kepemimpinan di pesantren dilaksanakan apabila kiai yang menjadi pengasuh utama meninggal dunia. Jadi kiai adalah pemimpin pesantren seumur hidup. Apabila kiai sudah meninggal, estafet kepemimpinan biasanya dilanjutkan oleh adik tertua dan kalau tidak mempunyai adik atau saudara, biasanya kepemimpinan langsung digantikan oleh putra kiai. Biasanya kiai mengkader putra-putranya untuk meneruskan kepemimpinannya. Namun, jika kaderisasi itu gagal, biasanya yang melanjutkan adalah menantu yang paling pandai atau menjodohkan putrinya dengan putra kiai lain. Jadi tidak ada peluang masuknya orang luar menjadi pemimpin pesantren tanpa memasuki jalur feodalisme kiai.
Dengan demikian, jelas bahwa posisi kepemimpinan kiai adalah posisi yang sangat menentukan kebijaksanaan di semua segi kehidupan pesantren, sehingga cenderung menumbuhkan otoritas mutlak, yang pada hakikatnya justru berakibat fatal. Namun profil kiai di atas pada umumnya hanyalah terbatas pada kiai pengasuh pesantren tradisional yang memegang wewenang (otoritas) mutlak dan tidak boleh diganggu gugat oleh pihak mana pun.
Kepemimpinan kiai yang karismatik cenderung individual dan memunculkan timbulnya sikap otoriter mutlak kiai. Otoritas mutlak tersebut kurang baik bagi kelangsunganhidup pesantren, terutama dalam hal suksesi kepemimpinan. Kaderisasi hanya terbatas keturunan dan saudara, menyebabkan tidak adanya kesiapan menerima tongkat estafet kepemimpinan ayahnya.
Oleh karena itu, tidak semua putra kiai mempunyai kemampuan, orientasi, dan kecenderungan yang sama dengan ayahnya.Selain itu, pihak luar sulit sekali untuk bisa menembus kalangan elite kepemimpinan pesantren, maksimal mereka hanya bisa menjadi menantu kiai. Padahal, menantu kebanyakan tidak berani untuk maju memimpin pesantren kalau masih ada anak atau saudara kiai, walaupun dia lebih siap dari segi kompetensi maupun kepribadiannya. Akhirnya sering terjadi pesantren yang semula maju dan tersohor, tiba-tiba kehilangan pamor bahkan mati lantaran kiainya meninggal.
KH. Abd. Rosyid  adalah sosok kiai yang juga Tokoh masyarakat. Tentu saja tanggung jawabnya jauh lebih besar ketimbang seseorang yang hanya memiliki salah satu titel tersebut. Dalam perjalanan hidupnya, dia menunjukkan kiprah dan peran dalam perkembangan agama Islam di desa Ambender. Sebagai kiai, beliauberperan sebagai penjaga moral masyarakat dengan menggunakan berbagai otoritas di berbagai lembaga keislaman.
Sementara itu, bukti eratnya hubungan kiai dan masyarakat di sekitar Pondok Pesantren Nurul Iman dapat dilihat denganbanyaknya sumbangsih masyarakat terhadap Pondok PesantrenNurul Iman. Masukan itu baik yang bersifat materil maupunsumbangan tenaga, masukan konstruktif terhadap kemajuanpesantren, dan tingginya peran serta masyarakat ikut menjagakeamanan dan ketenteraman kehidupan pesantren dalammenjalankan aktivitas keseharian.
Di samping itu, peran kiai bagi masyarakat sekitar tampak padabimbingan keagamaan oleh kiai dengan cara memberikan waktu dantempat untuk masyarakat datang ke pondok pesantren mendengarkanwejangan dan ceramah agama dalam rangka pengisian rohanimasyarakat terhadap ajaran agama Islam. Bagi masyarakat di sekitar Pondok Pesantren Darul Ulum, sosok kiai dengan pribadi yangmelekat pada dirinya yang dihiasi dengan akhlakul karimahmerupakan figur yang sangat dihormati. Dengan demikian, apa pungerak-gerik yang dilakukan oleh kiai, dijadikan sebagai teladan bagimasyarakat sekitar. Dengan demikian, legalitas otoritas yang dimilikikiai merupakan otoritas karismatik yang muncul dari karisma npribadinya.





[1] Imron Arifin, Kepemimpinan Kiai: Kasus Pondok Pesantren Tebuireng, (Malang: Kalimasada Press, 1993), hlm. 45.
[2] Mujamil Qomar, Pesantren: Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi, (Jakarta: Erlangga, 2004), hlm. 40.
[3] M. Dawam Rahardjo (ed.), Pergumulan Dunia Pesantren: Membangun
dari Bawah, (Jakarta: P3M, 1985), hlm. 114.
---
Tag : pendidikan
0 Komentar untuk "Kepemimpinan PondokPesantren Tradisional di Ponpes Darul Ulum Ambender Pegantenan Pamekasan"

Back To Top