Selamat Datang di Blog Kami. Blog ini meyediakan berbagai macam informasi seputar Madura dalam bentuk media online yang memuat: Madura Zone, Artikel, Pendidikan, Budaya, Pariwisata, Kuliner, Berita, Dan lain-lain. Selamat berkunjung di blog kami!!!

Madura Pulau Seribu Pesantren - Laily Komaril SyafriLia

---
---
sebutan Madura sebagai pulau seribu pesantren mungkin benar adanya. Pesantren. Tempat menuntut ilmu yang diekspektasi tinggi karena daily activity terjadwal dan mayoritas berkutat pada pengembangan diri. Imtaq dan iptek diikat dengan seindah-indah akhlak. Penuntut ilmu yang disebut santri akan disebut berhasil jika setidaknya ada perubahan, at least dari tutur kata. Kalau sebelumnya intonasi suara agak tinggi dan memakai strata bahasa paling rendah (ada 3 tingkat strata bahasa Madura), maka bersiaplah mempersiapkan indra pendengar menerima getaran kesopanan dengan lemah lembutnya beserta versi tingkat bahasa yang pertama; abdhina-ajunan jika kalian berdekatan dengan santri yang berhasil tadi.


Seperti laiknya kerajaan, pesantren memiliki raja yang disebut kiai. Namanya raja, pasti punya ratu. Mereka benar-benar memegang andil besar dalam peradaban Madura. Tak diherankan, segala keputusan membutuhkan pikiran matang dengan logika dan nalar nurani-oriented. Karena mereka pemimpin secara batin dan teraplikasi secara zhahir. Raja dan ratu Madura dianggap ulama kudus; suci. Jangankan perintah, permintaan mereka tidak boleh disanggah. Bagaimana akan ditolak? Every decision is based on the most reasonable background. Belum lagi konsep berkah. Semakin tunduklah rakyat jelata apalagi berotak awam pada setiap mandat raja.

Kehati-kehatian keputusan menyentuh setiap lini, termasuk dalam pernikahan keturunan mereka. Ya. Tentu saja. Jangankan sekelas beliau-beliau, rakyat jelata saja pasti ingin yang terbaik untuk anak-anak mereka sekalipun mereka bukan siapa-siapa. Dalam sebuah hadits, wanita dinikahi karena 4 perkara. Keindahan rupa, berkelasnya nasab keluarga, berlimpah harta, dan karena luhurnya agama. Kalau ingin berbahagia asli, katanya sih, nikahilah karena alasan terakhir. Sistem witing jalaran suku kulino berlaku selepas menikah. Jadi jangan menikah karena cinlok. Kalau sudah tersebab keseringan bersama, biasanya pernikahan tersebut berlandaskan keengganan melepaskan sesuatu yang sudah dibiasakan dan dalam zona nyaman. Bercanda bersama. Makan bersama. Hang out bersama. Bahkan bonceng bersama. Na;udzubillah. Zaman Rasul, para sahabat yang ingin menikah dan menentukan karakter gadis yang menjadi target, bisa meneliti karakter ayahnya. Buah jatuh tak bakal jauh dari pohon. Sepertinya hal itu pula yang menjadi patokan para raja-ratu di pesantren untuk memilihkan jodoh untuk anak-anak mereka. Cukup menjadi putra-putri mahkota dari pesantren tertentu, kalian sudah berhasil masuk nominasi menantu.

“Itu tidak adil, Li!”
Firga menyanggah tulisanku yang baru kubaca separuh

“Kalau orang-orang sempurna dari segi rupa, nasab, harta dan agama hanya berhak menikahi dan dinikahi dari golongan kerajaan seperti yang kamu bilang, orang biasa seperti kita tidak memiliki kesempatan dinikahi orang sempurna, dong?”

Firga menggulung tangannya ke dalam dengan mimik wajah tak suka. Aku tersenyum dan menari nafas panjang.

“Pertama, kita harus memahami konsep tahu diri. Kita ini siapa sih? Ibadah kita sehebat apa? Orang tua kita 5 waktu ke masjid? Berapa orang yang sudah kita dakwahi untuk menjadi lebih baik? Hei, jangan-jangan iman kita masih fluktuatif. Moody. Gak stabil. Kadang bagus, kadang menghempas drastis”
Firga melihat ke atas. Sepertinya penjelasanku terterima

“Kedua, semua orang berhak menjadi baik. Jadi percayalah, walau bukan keturunan kerajaan, masih banyak rakyat biasa yang agamanya hanif. Berkorban banyak untuk rakyat walau senyap dan memenuhi kategori. Mungkin ada yang sumbing entah dari segi nasab atau yang lainnya tapi kalau agama sudah bagus. Ya, okelah”

“Aku jadi teringat ceritamu. Patah hati luar biasa yang menimpa teman gurumu. Padahal agamanya bagus, orangnya cakep tapi karena nasabnya biasa, anak petani, gak diterima deh meminang putri kiai”

“Tapi sekarang beliau bahagia dengan istri dan anak-anak yang cerdas, lucu dan sopan. Istrinya sholelah. Baik dan pintar memasak. Well, baiklah, boleh aku lanjut?”

“You may ”

Laily Komaril SyafriLia
---
Tag : artikel
0 Komentar untuk "Madura Pulau Seribu Pesantren - Laily Komaril SyafriLia"

Back To Top